Yadnya atau Yajna dalam Bahasa Sanskrit adalah suatu bentuk pengorbanan yang suci dan tulus ikhlas. Pengorbanan itu dapat berwujud dan dapat pula tidak berwujud.
Pengorbanan yang berwujud berupa benda-benda atau kegiatan, sedangkan pengorbanan yang tidak berwujud adalah berupa “tapa” atau pengekangan indria dan pengendalian diri agar tetap berada pada jalur Dharma.
Pengorbanan itu dinamakan suci karena mengandung pengertian dan keterkaitan dengan Tuhan/ Hyang Widhi. Dalam Rg-Veda disebutkan bahwa Sang Maha Purusa (Hyang Widhi) menciptakan semesta dengan mengorbankan diri-Nya sendiri.
Di sinilah bermula tumbuhnya pengertian bahwa Yadnya yang dilakukan oleh manusia adalah dengan mengorbankan diri sendiri. Namun jika diperhatikan lebih jauh apapun yang dijadikan kurban dalam yadnya, tiada lain adalah dari pada-Nya karena semesta ini identik dengan Hyang Widhi.
Makna tulus ikhlas adalah kemurnian nurani secara sadar melakukan yadnya tanpa paksaan atau keinginan memperoleh pahala atau balas jasa.
Pentingnya ber-yadnya bagi manusia, tersirat dari Bhagawadgita Bab III.9:
YAJNARTHAT KARMANO NYATRA, LOKO YAM KARMABANDHANAH, TADARTHAM KARMA KAUNTEYA, MUKTASANGAH SAMACARA
Selain kegiatan yang dilakukan sebagai dan untuk yadnya, dunia ini juga terikat oleh hukum karma. Oleh karenanya lakukan tugasmu ber-yadnya, bebaskan diri dari semua ikatan; lakukan yadnya tanpa memikirkan hasil, dengan tulus ikhlas dan untuk Tuhan.
Juga dalam Bhagawadgita Bab IV pasal 19 ada disebutkan tentang hal ini:
YASYA SARVE SAMARAMBHAH, KAMASAMKALPAVARJITAH, JNANAGNIDAGDHAKARMANAM, TAM AHUH PANDITAM BUDHAH
Ia yang segala perbuatannya tidak terikat oleh angan-angan akan hasilnya dan ia yang kepercayaannya dinyalakan oleh api pengetahuan, diberi gelar Pandita oleh orang-orang yang bijaksana.
Berbagai bentuk yadnya dan nilai simbolisnya ditemukan dalam Bhagawadgita Bab IV pasal 23 sampai 30 di mana disimpulkan bahwa tiap-tiap usaha yang berakibat mengurangi rasa keakuan dan mengurangi nafsu yang rendah untuk mewujudkan bhakti kepada Hyang Widhi, adalah pengorbanan.
Oleh karena itu maka bentuk yadnya ada empat, yaitu: Widi yadnya, Druwya yadnya, Jnana yadnya, dan Tapa yadnya.
Widi Yadnya adalah bentuk yadnya yang diadakan dengan berlatar belakang pada kehidupan manusia yang mempunyai “hutang-hutang” atau Rnam. Rnam itu ada tiga, yaitu Dewa Rnam, Rsi Rnam, dan Pitra Rnam.
Dewa Rnam adalah hutang manusia kepada Hyang Widhi, karena berkat anugerah-Nya atman atau roh dapat bereinkarnasi menjadi manusia.
Rsi Rnam adalah hutang manusia kepada para Maha-Rsi yang telah menyebarkan ajaran Weda sebagai pangkal ilmu pengetahuan sehingga manusia mempunyai pengetahuan yang berguna bagi peningkatan kualitas kehidupannya.
Pitra Rnam adalah hutang manusia kepada leluhur sebagai yang melahirkan secara turun-temurun.
Manusia yang berbudi hendaknya menyadari adanya Tri Rnam ini serta melakukan yadnya sebagaimana disebutkan dalam Manawa Dharmasastra Buku ke-IV (Atha Caturtho Dhyayah) pasal 21:
RSI YAJNAM DEWAYAJNAM BHUTA YAJNAM CA SARVADA, NRYAJNAM PITRYAJNAM CA YATHACAKTI NA HAPAYET
Hendaknya janganlah sampai lupa, jika mampu melaksanakan yadnya untuk para Rsi, para Dewa, kepada unsur-unsur alam (Bhuta), kepada sesama manusia dan kepada para leluhur.
Ajaran ini berkembang di Nusantara sebagai “Panca Yadnya” dengan urutan: Dewa Yadnya, Rsi Yadnya, Pitra Yadnya, Manusa Yadnya, dan Bhuta Yadnya.
Tri Rnam “dibayar” dengan Panca Yadnya, sebab ada yadnya-yadnya yang bermakna atau bertujuan sama dalam kaitan Rnam, yaitu: Dewa Yadnya dan Bhuta Yadnya ada dalam kaitan Dewa Rnam; Pitra Yadnya dan Manusa Yadnya ada dalam kaitan Pitra Rnam, dan Rsi Yadnya khusus untuk Rsi Rnam.
Druwya Yadnya adalah pengorbanan dalam bentuk materi yang diberikan kepada seseorang yang membutuhkannya. Dalam keseharian Drwuya Yadnya ini dikenal dengan kegiatan me-Dana Punia.
Dana Punia yang dilakukan tanpa mengharap balas jasa itulah yang utama sebagaimana disebutkan dalam Bhagawadgita XVII pasal 20:
DATAVYAM ITI YAD DANAM, DIYATE NUPAKARINE, DESE KALE CA PATRE CA, TAD DANAM SATTVIKAM SMRTAM
Pemberian dana yang dilakukan kepada seseorang tanpa harapan kembali, dengan perasaan sebagai kewajiban untuk memberi kepada orang yang patut dalam waktu dan tempat yang patut itulah yang disebut Sattwika (baik).
Jnana Yadnya adalah pengorbanan dalam bentuk kegiatan belajar dan mengajar terutama dalam bidang kerohanian.
Bhagawadgita VII membedakan antara Vijnana dengan Jnana sebagai berikut:
- Vijnana adalah pengetahuan yang berdasarkan pemikiran dan kecerdasan, sedangkan Jnana adalah pengetahuan mengenai ke-Tuhan-an.
- Selanjutnya dijelaskan pula bahwa Jnana tidak mungkin diperoleh tanpa Vijnana, karena Vijnana adalah dasar yang kuat untuk meningkatkan pengetahuan rohani.
Jnana yadnya tidak hanya bermanfaat bagi orang lain, tetapi juga bagi diri sendiri, karena sangat membantu upaya manusia dalam pendakian kesadaran spiritual. Kegiatan Dharmawacana dan Dharmatula adalah contoh Jnana Yadnya.
Jnana Yadnya disebut sebagai bentuk yadnya yang lebih agung dalam Bhagawadgita Bab IV pasal 33:
SREYAN DRAVYAMAYAD YAJNAJ, JNANAYAJNAH PARAMTAPA, SARVAM KARMA KHILAM PARTHA, JNANE PARISAMAPYATE
Persembahan korban berupa ilmu pengetahuan adalah lebih agung sifatnya dari korban benda yang berupa apa pun juga, sebab segala pekerjaan dengan tiada kecuali memuncak dalam kebijaksanaan.
Tapa Yadnya adalah pengorbanan atau yadnya yang tertinggi nilainya karena ia berwujud sebagai pengendalian diri masing-masing individu. Tapa Yadnya juga disebut sebagai kegiatan pendakian spiritual seseorang dalam upaya meningkatkan kualitas beragama.
Tahapan-tahapan peningkatan kualitas beragama, menurut Lontar Sewaka Dharma adalah:
- Ksipta: seperti perilaku kekanak-kanakan yang cepat menerima sesuatu yang dianggapnya baik tanpa pertimbangan yang matang.
- Mudha: seperti perilaku pemuda: pemberani, selalu merasa benar, kurang mempertimbangkan pendapat orang lain.
- Wiksipta: seperti perilaku orang dewasa, mengerti pada hakekat kehidupan, memahami subha dan asubha karma.
- Ekakrta: seperti perilaku orang tua, yaitu keyakinan yang kuat pada Hyang Widhi, mempunyai tujuan yang suci dan mulia.
- Nirudha: seperti prilaku orang-orang suci, penuh pengertian, bijaksana, segala pemikiran perkataan dan perbuatannya terkendali oleh ajaran-ajaran Agama yang kuat, serta mengabdi kepada kepentingan umat manusia.
Tujuan menekuni Agama atau kerajinan melaksanakan ajaran Agama adalah mewujudkan Tapa Yadnya ini dalam kehidupan sehari-hari.
Yadnya yang efektif dan praktis di zaman modern dapat ditinjau dari dua segi, yaitu segi efektivitas dan segi praktis.
Di zaman modern, di mana sumber kehidupan masyarakat sudah bergeser dari sektor Agraris ke sektor Industri dan Perdagangan, maka pola hidup dan tatanan nilai-nilai sosial budaya pun turut berubah misalnya dari sikap statis ke dinamis, penghematan biaya, dan penghematan waktu.
Bahwa kewajiban umat Hindu melaksanakan keempat jenis Yadnya seperti tersebut di atas, adalah melekat dengan keyakinan pada ajaran Veda. Jika sudah diketahui tujuan Yadnya seperti itu maka penyesuaian-penyesuaian dalam pelaksanaannya perlu dipikirkan sebagai berikut:
1. Penyesuaian dalam Widi Yadnya.
Upacara Panca Yadnya tetap dilaksanakan sebagaimana mestinya, namun mengurangi pemborosan-pemborosan dalam bentuk-bentuk upakara. Pedoman upakara disusun sedemikian rupa menurut klasifikasi: Alit – Madya – Ageng agar digunakan oleh umat Hindu sesuai dengan kemampuan keuangannya.
Dalam hal ini hendaknya dimengerti bahwa klasifikasi itu semata-mata berlatar belakang kemampuan finansial seseorang, agar semua orang dapat melaksanakan upacara Panca Yadnya. Klasifikasi yang Alit tidaklah berarti nilainya lebih rendah dari yang Madya dan Ageng, demikian pula sebaliknya.
Selain itu penghematan dalam bidang konsumsi seperti jamuan makan, dapat dilaksanakan dengan menghidangkan makanan yang murah, sehat, dan bergizi. Pelaksanaan Yadnya dalam waktu yang singkat juga akan banyak pengaruhnya pada segi efektivitas dan efisiensi.
Upakara, yang dikenal di Bali dengan istilah “Banten” adalah bentuk-bentuk simbolis dalam Bhakti dan Sakti, sehingga dalam Veda disebut sebagai Niyasa. Antara Niyasa dengan Jnana ada kaitannya, yaitu: makin tinggi tingkat Jnana seseorang maka makin sedikit ia menggunakan Niyasa, demikian sebaliknya.
Oleh karena itu maka jika ingin mengurangi kuantitas banten, hendaknya pendakian spiritual makin ditingkatkan. Tiga kerangka Agama Hindu, yaitu: Tattwa, Susila, dan Upacara, seharusnya dilaksanakan secara seimbang. Kebanyakan diantara kita hanya berkutat pada bentuk-bentuk upacara saja tanpa menyentuh segi-segi Tattwa dan Susila.
2. Penyesuaian dalam Druwya Yadnya.
Ber-dana punia sudah dilaksanakan namun sebagian besar baru sebatas ada kepentingan tertentu misalnya membangun Pura, membantu umat sedharma yang ditimpa kemalangan, membangun Balai Banjar, membantu anak yatim-piatu dan orang tua jompo, dan lain-lain.
Dana-punia bagi umat Hindu belum dilaksanakan sebagai bentuk kewajiban yang bersifat permanen, artinya menyisihkan sebagian dari penghasilan setiap bulan.
Kelemahan ini terjadi karena belum dibiasakan dan juga belum ada Lembaga yang menampung dana-punia secara tetap dan berwawasan Nusantara serta diakui/ dipercaya oleh seluruh umat Hindu.
Adanya suatu dana yang cukup besar sangat penting artinya bagi upaya mempertahankan eksistensi Hindu dan mengembangkannya.
3. Penyesuaian dalam Jnana Yadnya.
Kegiatan Dharmawacana dan Dharmatula hendaknya ditingkatkan dengan cara membentuk Lembaga Dharma Duta di setiap kelompok umat Hindu, sehingga Dharmawacana dan Dharmatula dapat dilaksanakan pada setiap persembahyangan bersama di Pura atau di tempat-tempat tertentu.
Materi Dharmawacana dan Dharmatula menyangkut praktek agama dalam kehidupan sehari-hari. Pelajaran Agama tidak hanya diberikan di sekolah-sekolah saja tetapi juga di tiap rumah tangga oleh ayah dan ibu kepada anak-anaknya.
Pembacaan ayat-ayat suci dan mantram-mantram tertentu yang digunakan sehari-hari sangat bermanfaat bagi pembentukan moral dasar bagi anak-anak.
4. Penyesuaian dalam Tapa Yadnya.
Bhagawadgita mengungkapkan bahwa tiap-tiap pengorbanan memberi jalan pada pertumbuhan jiwa, dan pengorbanan pada dasarnya adalah keikhlasan berbuat untuk tujuan yang lebih mulia; oleh karena itulah ada pengekangan-pengekangan.
Agar dapat mengendalikan diri dengan baik, maka selain mempelajari Veda juga dengan melakukan upawasa secara teratur. Upawasa atau berpuasa adalah latihan mengendalikan Panca Indra. Bila Panca Indra dapat dikendalikan maka seluruh pikiran, perkataan, dan perbuatan pun dapat dikendalikan pula.
Upawasa menurut Manawa Dharmasastra dan Parasara Dharmasastra tidak hanya pada waktu hari raya Nyepi dan Sivaratri saja, tetapi juga pada hari-hari lain misalnya pada purnama dan tilem. Di samping itu upawasa juga dilakukan pada saat-saat merasa melakukan dosa baik secara sadar maupun secara tidak sadar.
Upawasa juga baik dilakukan pada saat mengadakan persembahyangan khusus misalnya saat melaksanakan upacara-upacara Panca Yadnya. Upawasa rutin setiap minggu dianjurkan pada setiap hari Selasa.
Cara upawasa tergantung dari kemampuan masing-masing misalnya di siang hari saja, atau penuh 24 jam, atau hanya dengan memakan nasi putih satu kepal saja.
Kegiatan upawasa disertai dengan pemujaan dalam bentuk berjapa, bersemadhi, atau sembahyang biasa. Tapa Yadnya sangat penting dikemukakan dalam menghadapi berbagai gejolak di zaman modern ini, di mana pengaruh-pengaruh globalisasi dunia yang negatif akan sangat mudah mempengaruhi keimanan Hindu.
Sebagai akhir kata dapat disimpulkan bahwa berbagai bentuk Yadnya hendaknya dilaksanakan dengan efektif, efisien, dan praktis karena Veda-pun menghendaki demikian. Hukum dunia adalah Yadnya dan ia yang tidak mengikuti ini akan tidak mencapai kebahagiaan hidup.
Related posts:

Om Swastyastu;
Artikel yang sangat adaptif sesuai konsep Dese-Kale-Patre & diramu dengan prisnsip 3E (efisien-efektif-ekonomis) sampun sangat bagus banget, dan tyang cuma ingin tambahkan mengenai ‘Klasifikasi’ Tri-Ama/Nimu kan ada 9 (3×3) & sebaiknya ada penjelasan khusus dengan disertai ‘Matrix Formula’nya (Kriteria & Kadarnya harus jelas) !
Tyang sangat setuju, bila segera diupayakan penerapanya ke tingkat Nasional, tentu dengan kewenangan PHDI pusat sebagai majelis tertinggi umat se-indonesia, memang sih Bali tetap sebagai barometer perkembangan nasional !
Menurut tyang, sudah amat sangat terlambat, bila sudah diterapkan, apalagi belum sama sekali. Tyang hanya bisa ter-heran2, melihat langsung perkembangan Bali (Hindu & Umatnya), terkesan seperti Nasi campur (susah dipilah). Memang, disisi ekonomi & modernisasi perkembanganya Bali bagus, tapi disisi mental & prilaku para tokoh & generasi mudanya cendrung tambah buruk sekali ? Ampure, yening wenten iwang !
Om Shanti x3.
Tyang mangkin ring Makassar
(Jawa-Sumatra sejak 1980).