Siwaratri bukan malam ‘peleburan dosa’, tetapi adalah malam ‘penyadaran dosa’ karena:
1. Siwaratri artinya Siwa = Tuhan/ Bhatara Siwa; ratri = malam. Atau malamnya Bhatara Siwa/ Tuhan, saat yang tepat bagi manusia untuk merenungi kehidupan di masa lampau serta sadar/ eling pada dosa-dosa yang terlanjur, baik sengaja atau tidak sengaja telah terjadi.
Kemudian berjanji dan menguatkan tekad untuk tidak mengulangi dosa. Demikian halnya dengan kisah Lubhdaka di mana setelah siwaratri dia tidak lagi berbuat dosa.
2. Dosa manusia tidak dapat dihapus/ dilebur, dan harus dipertanggungjawabkan oleh roh/ atman kepada Bhatara Yamadipati (Tuhan) di saat ‘mantuk ke sunia’. Namun demikian, dosa dapat diimbangi dengan perbuatan dharma.
Ibarat sinar matahari yang tetap terik, namun bila ada angin segar berhembus atau matahari tertutup mega, maka sinarnya yang panas tidak terasa.
3. Kesadaran itulah yang perlu ditumbuhkan di saat melakukan brata siwaratri.
Related posts:

[...] http://bali.stitidharma.org/2009/12/24/siwa-ratri-malam-peleburan-dosa-atau-penyadaran-dosa/ [...]