Padmasari dan Padmasana

QUESTION:

Setelah saya hitung ternyata jumlah pelinggih di Mrajan saya ada sebanyak 11 buah di luar padma. Padmasari saya buat kira-kira 3 tahun lalu. Menurut Bhagawan, seharusnya Padmasana seperti apa? Apa masalah yang ditimbulkan atas kekeliruan ini?

Dapatkah tatanan ini saya pertahankan? Adakah banten penebusannya? Untuk merubah Padmasari menjadi Padmasana tentu perlu biaya yang cukup besar, di mana saat ini saya belum mampu.

ANSWER:

1. Untuk sementara, dapat ngaturang ‘guru-piduka’ berupa sesajen yang disebut ‘tebasan guru piduka’ pada setiap odalan/ petirtaan di sanggah pamerajan.

2. Bila jumlah pelinggih ada 11, coba perhatikan adakah pelinggih ‘sapta-petala’ yakni berbentuk padma capah, dengan patung naga dua ekor. Bila sudah ada sapta-petala, masih ‘dibolehkan’ padmanya adalah padmasari, walaupun sesungguhnya masih belum sempurna. Tetapi bila tidak ada pelinggih sapta petala, maka sangat perlu ada padmasana.

3. Mengapa? (penegasan no 2) Karena keyakinan kita bahwa bumi (pertiwi) terdiri dari 7 lapis (sapta) yakni:

  • patala (paling luar/ atas)
  • witala
  • nitala
  • sutala
  • tatala
  • satala
  • ratala (inti bumi)

Agar bumi ini tidak gonjang-ganjing maka diikat oleh dua ekor naga yakni: naga basuki dan naga anantaboga.

Saptapetala disimbolkan dengan kura-kura, sehingga terbentuklah patung kura-kura yang dililit dua naga di dasar padmasana, yang disebut ‘bedawang-nala’ (beda = ruang-ruang; wang = yang ada; nala = api = inti bumi atau ‘ratala’).

Naga basuki dan anantaboga adalah simbol kemakmuran dan kesejahteraan.

Jadi makna padmasana yang berdasar bedawang nala adalah: keajegan bumi sebagai tempat kehidupan, atas karunia Sanghyang Widhi yang berwujud: Parama siwa, Sada siwa dan Siwa. Padma = teratai; sana = sikap duduk.

Jadi padmasana adalah tempat/ kedudukan suci Sanghyang Widhi yang melindungi bumi/ kehidupan kita.

Simbol garuda-wisnu adalah simbol garuda (putra Sang Winata) yang membawa tirta amerta kamandalu, anugerah dari wisnu. Itu berarti juga sebagai simbol kesejahteraan dan kesehatan serta umur panjang bagi penyungsung garuda-wisnu.

Hiasan Angsa, sebagai kendaraan Bhatari Saraswati, mengandung makna para pemuja padmasana agar dikaruniai kepandaian, ilmu yang tinggi.

Symbol acintya pada padmasana berarti Sanghyang Widhi yang tak dapat dibayangkan, digambarkan, diraba, dll, namun ‘kekuasaan-Nya’ sungguh mutlak dan luar biasa.

Jadi manusia yang menyembah padmasana, ‘mengakui’ bahwa hanya Sanghyang Widhi-lah yang berada di atas segala-galanya.

Kesimpulan: kelak bila ada dana, baik sekali membangun padmasana, walaupun sudah ada sapta petala, karena simbol-simbol seperti: garuda, angsa, acintya, tidak ada di padmasari.

Related posts:

  1. Sanggah Pamerajan – Seri III
  2. Padmasana
  3. Membangun Pelinggih Padmasari
  4. Sinar di Padmasari
  5. Padmasana – Rewriting Version

Leave a Reply

 

 

 

You can use these HTML tags

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>