Perkataan DEWASA berasal dari bahasa Sanskerta: DIV artinya “Sinar” kemudian menjadi DEVA (arti yang ke-3: sama dengan Dewa, yaitu manifestasi Hyang Widhi) dan menjadi DIVASA (arti yang ke-4: langit, sorga, hari).
Perkataan Divasa, berkembang di Bali menjadi DEWASA atau PADEWASAAN, atau WARIGA DEWASA, yaitu pemilihan hari baik untuk menuju jalan yang mulia berdasarkan posisi dan peredaran benda-benda langit di angkasa: matahari, bulan, dan bintang.
Hal-hal mengenai padewasaan bersumber pada Wedangga, khususnya lontar-lontar Jyotisa, BUKAN PRASASTI. Prasasti artinya catatan sejarah atau tulisan yang berhubungan dengan kejadian-kejadian tertentu yang dianggap penting oleh penguasa (Raja atau pejabat lain) di zaman lampau.
Wedangga merupakan salah satu dari tiga bagian besar pengelompokan Kitab Suci Hindu, yaitu WEDA SRUTI, WEDANGGA, dan UPAWEDA (WEDA SMERTI).
WEDA SRUTI dibagi dalam tiga kelompok, yaitu:
- SAMHITA
- BRAHMANA (pengaturan tentang yadnya)
- ARANYAKA & UPANISAD (filsafat ke-Tuhanan/ Theologi).
SAMHITA dibagi dalam empat kelompok, yaitu:
- REG WEDA (tentang tata cara pemujaan)
- YAYUR WEDA (tentang yadnya)
- SAMA WEDA (tentang irama mengucapkan weda)
- ATHARWA WEDA (tentang kehidupan).
WEDANGGA dibagi dalam enam kelompok, yaitu:
- SIKSA (lafal weda)
- WYAKARANA (arti weda)
- CHANDA (lagu)
- NIRUKTA (tafsir)
- JYOTISA (wariga)
- KALPANA (pelutuk banten).
UPAWEDA dibagi dalam delapan kelompok:
- ITIHASA (Ramayana dan Mahabharata)
- PURANA (sejarah)
- ARTHASASTRA (politik)
- AYUR WEDA (pengobatan)
- GANDARWA WEDA (kesenian)
- DANUR WEDA (ilmu perang)
- KAMA SUTRA (semara gama)
- AGAMA (tuntunan hidup).
Demikian sekilas, dapat dilihat referensi PADEWASAAN dari Kitab Suci Hindu di atas.
Selanjutnya, PADEWASAAN ditetapkan berdasarkan ketentuan wariga sebagai berikut: WEWARAN alah dening WUKU, Wuku alah dening TANGGAL PANGELONG, tanggal pangelong alah dening SASIH, Sasih alah dening DAWUH, dawuh alah dening WETU (Wetuniya Sanghyang Triodasa Sakti).
Yang dimaksud dengan wewaran adalah Ekawara, Dwiwara, Triwara, dan seterusnya, yang masing-masing mempunyai URIP/ NEPTU, TEMPAT, dan DEWATA yang dominan. Semua unsur itu menetapkan sifat-sifat padewasaan (baik-buruknya dewasa).
Yang dimaksud dengan wuku adalah Sinta, Landep, Ukir, dan seterusnya, yang masing-masing juga mempunyai urip/ neptu, tempat dan dewa yang dominan, juga ke semuanya unsur itu menetapkan sifat-sifat padewasaan.
Yang dimaksud dengan tanggal atau penanggal adalah hari-hari sejak TILEM sampai PURNAMA sedangkan Pangelong adalah hari-hari sejak PURNAMA sampai TILEM.
Padewasaan yang berhubungan dengan tanggal pangelong dibagi dalam empat kelompok, yaitu:
- Padewasasan menurut catur laba (empat akibat: baik – buruk – berhasil – gagal)
- Padewasaan berdasarkan penanggal untuk pawiwahan (misalnya hindari menikah pada penanggal ping empat karena akan berakibat cepat jadi janda atau duda)
- Padewasaan berdasarkan pangelong untuk pawiwahan (misalnya hindari pangelong ping limolas karena akan berakibat tak putus-putusnya menderita)
- Padewasaan berdasarkan wewaran, penanggal, dan pangelong (misalnya: Amerta dewa, yaitu Sukra penanggal ping roras, baik untuk semua upacara)
Yang dimaksud dengan sasih adalah Kasa, Karo, Katiga, dan seterusnya sampai Sada. Padewasaan menurut sasih dikelompokkan dalam beberapa jenis kegiatan antara lain: untuk membangun, pawiwahan, yadnya, dll.
Yang dimaksud dengan dawuh adalah waktu/ jam menurut perputaran bumi pada sumbunya, yaitu berulang setiap 24 jam dimulai sejak terbitnya matahari jam 05.30.
Menggunakan dawuh sebagai acuan kegiatan dikelompokkan menjadi lima jenis, yaitu:
- Dawuh Sekaranti (berdasarkan jumlah urip Saptawara dan Pancawara, dikaitkan dengan penanggal/ pangelong, selama siang hari saja/ 12 jam dalam lima dawuh)
- Panca Dawuh (pembagian waktu selama 24 jam menjadi lima dawuh)
- Astha Dawuh (pembagian waktu selama 24 jam menjadi delapan dawuh)
- Dawuh Kutila Lima (pembagian waktu selama 24 jam menjadi lima dawuh dikaitkan dengan penanggal dan pangelong)
- Dawuh Inti (waktu yang tepat berdasarkan pertemuan Panca dawuh dengan Astha dawuh)
Yang dimaksud dengan wetu adalah kodrat atau kehendak Hyang Widhi sebagai Yang Maha Kuasa mengatur dan menetapkan segalanya.
Dalam pengertian ini ditafsirkan bahwa ala ayuning dewasa dapat dikecualikan dalam keadaan yang sangat mendesak, tetapi menggunakan upacara dan upakara tertentu.
Misalnya jika tidak dapat dihindarkan melaksanakan upacara penguburan mayat secara massal sebagai korban peperangan, huru-hara, dll., maka padewasaan dapat dikecualikan dengan upacara maguru piduka, macaru ala dewasa, mapiuning di Pura Dalem, Ngererebuin, dll.
Yang dimaksud dengan kalimat “alah dening” adalah “kalah dengan” atau ditafsirkan lebih lengkap sebagai “pertimbangkan juga…”
Pelaksanaan padewasaan dapat dikelompokkan dalam dua bagian besar, yaitu:
- padewasaan sadina artinya sehari-hari, dan
- padewasaan masa artinya berkala.
Padewasaan sadina ditentukan oleh Wewaran dan Pawukon (wuku). Semut sadulur adalah padewasaan menurut Pawukon, pada saat mana terjadi pertemuan urip Pancawara dan urip Saptawara menjadi 13 (tiga belas) beruntun tiga kali, yaitu: Sukra Pon, Saniscara Wage, dan Redite Kliwon.
Hari-hari itu jatuh pada Wuku: Kulantir, Tolu, Julungwangi, Sungsang, Medangsia, Pujut, Tambir, Medangkungan, Prangbakat, Bala, Dukut, dan Watugunung.
Kala gotongan adalah pertemuan urip Saptawara dan urip Pancawara14 (empat belas), yaitu Sukra Kliwon pada Wuku: Tolu, Sungsang, Pujut, Medangkungan, Bala, Watugunung; Saniscara Umanis pada Wuku: Tolu, Sungsang, Pujut, Medangkungan, Bala, Watugunung; dan Redite Paing pada Wuku: Sinta, Gumbreg, Dungulan, Pahang, Matal, Ugu.
Di samping itu ada juga dewasa YANG TIDAK BAIK untuk atiwa-tiwa (Pitra Yadnya/ Ngaben) menurut Pawukon, yaitu: Dungulan, Kuningan, Langkir, dan Pujut, meskipun dalam Wuku itu ada hari-hari yang BUKAN Semut Sadulur atau Kala Gotongan; jika untuk menanam mayat atau makingsan di Gni saja masih dibolehkan.
Related posts:

Recent Comments