Ngaben Bagi Yang Beralih Agama

QUESTION:

1. Ada warga yang sudah sejak lama beralih ke-agama lain (bukan Hindu), ketika beralih agama dahulu ia belum “mepamit ke Sanggah Pamerajan”; bila ia meninggal dunia apakah keluarganya terkena cuntaka/ sebel; kemudian jika keluarganya ingin membuat upacara ngaben baginya apakah boleh?

2. Upacara “makingsan di gni” dilaksanakan sebagai berikut:

  1. Sawa dibakar
  2. Nganyut ke segara
  3. Ngedetin dibawa ke rumah
  4. Ngerorasin
  5. Mecaru/ ngererebuin
  6. Ngantukang ke Pura Dalem

Pertanyaannya:

  1. Masihkah keluarganya terkena cuntaka/ sebel
  2. Bolehkah ngodalin di sanggah pamerajan karena ada penjelasan seorang Sulinggih, sebelum lewat 42 hari tidak boleh ngodalin

3. Apakah “sekehe Gong” yang megambel di tempat orang meninggal terkena cuntaka?

4. Ada lelaki beragama lain, menikah dengan wanita Hindu, lalu lelaki itu “nyentana” di pihak wanita. Apakah lelaki itu dapat diterima sebagai warga/ krama dadia, mengingat ia tidak ada hubungan keturunan dengan yang lain.

5. Bila upacara ngaben baru saja selesai terlaksana lalu ada lagi keluarganya yang meninggal, apakah dapat langsung di-aben, karena ada penjelasan seorang Sulinggih bahwa tidak boleh ngaben berturut-turut dalam waktu dekat di satu “tunggalan Sanggah/ Kawitan”.

Apakah pendapat Sulinggih itu benar dan apa ada sumber sastranya.

6. Setiap pelaksanaan yadnya, akan lebih sempurna jika dibarengi dengan “medana punia”. Bila dana punia itu dilaksanakan dengan mengedarkan kotak kepada para pemedek apakah dari segi etika agama dapat dibenarkan.

Mengenai hal ini masih ada pendapat pro-kontra.

    ANSWER:

    1. Kedudukannya sebagai warga harus ditegaskan terlebih dahulu berdasarkan kesepakatan seluruh anggota dadia, apakah almarhum akan diterima kembali sebagai warga atau tidak.

    Bila diterima kembali sebagai warga, almarhum “di-Hindu-kan” terlebih dahulu secara simbolis (menggunakan adegan) barulah upacara ngaben dapat dilaksanakan dan jika demikian berarti keluarga sampai tingkat mindon terkena cuntaka.

    Perlu diperhatikan, hal di atas dapat dilaksanakan jika istri/ suami dan anak-anak almarhum setuju.

    Di samping itu jika almarhum sudah terlanjur dikuburkan di pekuburan agama lain, tulang belulangnya harus dipindahkan ke setra Hindu dengan terlebih dahulu mapiuning ke Pura Dalem/ Mrajapati sama dengan proses menguburkan mayat seperti biasa.

    2. Proses upacara “makingsan di Gni” yang benar (secara garis besar) adalah sebagai berikut:

    1. Mabeakala/ mabersih/ mapegat sot
    2. Mebakar dengan syarat arang tulangnya tidak boleh “di-uyeg”, tidak boleh “direka”, dan tidak boleh dimasukkan ke “klungah”, jadi arang tulang hanya dicuci dengan air biasa dan air kumkuman, kemudian dibungkus kain putih
    3. Nganyut ke segara
    4. Mecaru/ ngererebuin di rumah dan di sanggah kemulan, keluarganya mabeakala, maprayascita. Setelah itu keluarganya tidak lagi terkena cuntaka atau dengan kata lain, hari itu juga cuntaka keluarga berakhir

    Dari pertanyan yang diajukan itu, upacara yang tidak perlu adalah:

    1. Ngedetin dibawa ke rumah tidak perlu, karena atma-nya masih belum bersih dalam arti panca mahabutha-nya belum dikembalikan ke tempat asalnya,
    2. Ngerorasin tidak perlu karena perkataan “ngerorasin” berasal dari kata “ro” (dua) dan “las” (pisah) sehingga ngerorasin artinya berpisah dua kali, yaitu pertama: pemisahan panca mahabutha (badan kasar) dan kedua: pemisahan panca tanmatra (pengaruh panca indra) dari atma almarhum; dalam upacara makingsan di gni pemisahan-pemisahan itu belum terjadi,
    3. Ngantukang ke Pura Dalem tidak perlu karena jazadnya dalam bentuk arang tulang masih berada di segara.

    Oleh karena sudah tidak cuntaka tentu saja upacara ngodalin dapat berlangsung, tidak perlu menunggu 42 hari.

    Justru upacara makingsan di Gni tujuannya antara lain agar upacara ngodalin dan upacara lain-lain tidak terhambat dengan adanya kematian mendadak salah seorang anggota keluarga.

    Sumber sastra mengenai atiwa-tiwa adalah Lontar Yama Purana Tattwa.

    3. Sekehe Gong dan semua yang melayat, kecuali Sang Dwijati terkena cuntaka.

    Sekehe Gong dan Jro Dalang bebas cuntaka bila di dalam banten peras gong dan peras dalang ditambahkan banten prayascita durmenggala, dan para sekehe bersama peralatannya segera me-prayascita setelah selesai bertugas.

    4. Bila sudah “nyentana” berarti dia sudah masuk Hindu (melalui upacara sudi waddani) dan otomatis menjadi warga dadia pihak wanita.

    Setelah menjadi warga dadia ybs. turut menyembah leluhur yang di-stanakan di Sanggah Pamerajan, Kawitan, dll. dan bila di kemudian hari ybs. meninggal dunia maka perlakuannya sama dengan warga lainnya antara lain dalam memperoleh tirta, dan me-paingkup di Sanggah Pamerajan.

    Sebelum upacara nyentana dilaksanakan, terlebih dahulu meminta persetujuan warga dadia.

    5. Pendapat itu tidak benar; ngaben berturut-turut dalam jangka pendek tidak masalah, karena hal itu tidak diatur dalam Lontar atiwa-tiwa seperti yang disebutkan di atas.

    6. Mengumpulkan dana punia dengan mengedarkan kotak hanyalah soal teknis saja. Asal dilaksanakan dengan sopan dan diumumkan terlebih dahulu, tidak melanggar etika, bahkan dapat melancarkan proses.

    Related posts:

    1. Masalah Beralih Agama
    2. Beralih Agama
    3. Ngaben yang Belum Terlaksana
    4. Prosedur Mengikuti Agama Suami yang Non Hindu
    5. Upacara Potong Gigi Bagi Orang Tua yang Sudah Meninggal

    Leave a Reply

     

     

     

    You can use these HTML tags

    <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>