QUESTION:
Anggarkasih Tambir bulan lalu tiang pulang dari Lampung dengan satu tujuan ngaturang bakti ke pura kawitan. Namun sial, ternyata untung tak bisa dikejar. Tepat di hari odalan saya datang bulan (menstruasi).
Keluarga di Bali tidak memperkenankan tiang tangkil ke pura kawitan. Karena saya dianggap dalam keadaan sebel, pada hal secara mental tiang sangat siap. Namun apa boleh buat, tiang harus mengurungkan niat saya itu. Besoknya tiang harus kembali ke Lampung dengan perasaan kosong, saya seperti kehilangan sesuatu.
Bayangkan dalam usia 22 tahun, tiang hanya baru dua kali tahu Bali. Sejak 25 tahun lebih ayah meninggalkan Bali, menjadi transmigran di Lampung. Saya sangat kangen tanah lelulur, saya rindu bagaimana rasanya sembayang di pura kawitan.
Toh dengan alasan menstruasi saya batal sembayang. Pada hal sekarang sudah ada alat canggih, pembalut yang bisa menjaga kenyamanan wanita bila tengah datang bulan.
Apakah Tuhan memang takut pada kekotoran? Pada hal semua yang ada di dunia ini adalah ciptaan-Nya. Kekotoran dan kesucian semua ada karena-Nya.
Mantuk ring Ida Pandita, tiang mohon pencerahannya.
ANSWER:
Cuntaka/ sebel (antara lain menstruasi) adalah keadaan tidak suci menurut srada Agama Hindu. Walaupun ditutup pembalut yang canggih, toch keadaannya tetap saja cuntaka.
Tetapi anda tidak perlu terlalu kecewa, karena anda sudah menjadi seorang Bhakta, yaitu seorang yang melaksanakan bhakti marga sedemikian kuat sehingga anda mempunyai rasa kerinduan yang sangat dalam kepada Hyang Widhi.
Rasa rindu bertemu seperti itu sudah cukup diterima oleh-Nya walaupun tanpa memasuki area Pura dan bersembahyang sebagaimana biasanya. Rasa bhakti anda sudah diterima baik.
Sebaliknya ada orang yang bersembahyang khusuk sekali tetapi rasa rindunya kepada Hyang Widhi kurang atau tidak ada, nah ini tentu sia-sia.
Related posts:

Recent Comments