QUESTION:
Berdasarkan peninggalan/ warisan dari pendahulu kami, selama ini sesajen yang kami haturkan untuk di pelinggih utama maupun beberapa pelinggih yang lebih kecil lainnya pada setiap Hari Raya Galungan adalah: Pejati.
1 soroh pejati ini berisikan: banten Peras, daksina, tipat kelanan, ajuman, canang Buah, canang pesucian dan penyeneng dilengkapi pula dengan banten Lekan (sesajen sebuah tumpeng putih beralas taledan lengkap dengan raka-raka dan sebuah wakul daksina tanpa serembeng yang berisikan jajan sesamuhan 7 macam, antara lain: bungan temu, lawat buah lawat nyuh, simbar, kelongkang, kemimitan, dan saraswati dilengkapi sampiyan sri kekili).
2. Satu soroh Pejati dengan banten Lekan tersebut dihaturkan pada masing-masing pelinggih Surya, Padmasana, Bale Pemiosan, Pura Ulundanu, Pura Beringin dan Pelangkiran di Bale Banjar, kecuali Peras Santun untuk Pinandita yang tidak pakai Banten Lekan. Sedangkan haturan untuk pelinggih yang kecil-kecil dan yang lainnya, hanya menghaturkan banten Soda/ ajuman.
3. Namun setelah sekarang kami coba melihat dan membandingkan apa yang telah biasa kami haturkan dengan apa tertulis di buku, ternyata jauh berbeda. Oleh karena itu kami mohon Ratu Perande berkenan memberi petunjuk, apakah sesajen yang kami haturkan selama ini sudah benar? Kalau tidak, bagaimanakah jenis sesajen yang seharusnya dihaturkan pada pelinggih-pelinggih di Pura setiap HR Galungan?
4. Untuk Hari Raya Kuningan kami tidak tanyakan karena kebetulan sama dengan yang ada di buku Panca Yadnya. Haturan haturan tersebut di atas ditambah Biakaonan dan Prayascita kami haturkan tepat pada HR Galungan, Sedangkan HR Penampahan Galungan tidak menghaturkan sesajen apapun hanya membuat penjor, namun di masing-masing rumah tangga menghaturkan Soda untuk para leluhur. Pertanyaan kami, banten apa yang seharusnya kami siapkan/ haturkan di Pura setiap Penampahan Galungan?
5. Sehubungan pembangunan Bale Gong di Pura sudah hampir selesai, yang rencananya Upacara Memakuh dan Melaspas dilaksanakan pada HR Purnama 12 Mei mendatang. Apakah Upacara tersebut harus menggunakan banten Caru? bisakah disederhanakan hanya dengan Segehan Agung?
6. Kalaupun harus menggunakan banten Caru, apakah cukup banten Caru hanya pada saat Upacara Pemakuhan saja, dengan Caru ayam putih (urip 5?)
7. Apakah jenis banten yang perlu kami siapkan untuk Upacara Pemelaspas cukup sorohan tumpeng pitu?
8. Apakah hari ini dibolehkan karena masih hari nguncal balung
ANSWER:
1. Banten ini sudah benar, termasuk klasifikasi banten yang ‘alit’, namun sudah bagus/ lengkap
2. Sudah benar
3. Jangan terpengaruh pada berbagai lontar atau buku, karena versi banten memang sangat beragam. Jadi gunakan apa yang diketahui/ biasa dikerjakan. Namun demikian unsur-unsur pokok banten tetap diperhatikan, terdiri dari:
- stana Sanghyang Widhi
- pesucian
- penuur
- ayaban/ tataban
- pasegehan/ pasuguhan
Penjelasan:
ad.1: unsur ini adalah simbol Sanghyang Widhi, misalnya pejati (sebagai banten utama dan lengkap) mengandung simbol ‘OM’
ad.2.: pesucian upakara, nyasa (pelinggih) dan manusia misalnya: prayascita, beakala, durmenggala, dll.
ad.3.: penuur artinya ‘mengundang/ mohon kehadiran-Nya’ misalnya dengan banten pengulapan/ pengambean.
ad.4.: banten ayaban: suguhan kepada-Nya, menurut kemampuan, misalnya pulagembal, sekartaman, tebasan, suci, bebangkit, dewa-dewi, dll. Ketika dihaturkan kepada-Nya banten itu disebut ‘ayaban’. Setelah itu maka banten yang sama di-’lungsur’ dengan natab ke pemedek. Maka banten ayaban = banten tataban. Dalam veda ini dinamakan ‘prasadam’
ad.5.: untuk bhuta-kala perlu juga disuguhi ‘hidangan’ maka banten ini disebut ‘segehan’ misalnya: segehan nasi kepel, nasi warna, segehan alit, dll. Di beberapa Desa di Bali, jenis segehan ini dinamakan juga ‘banten ke pertiwi’
Rangkaian/ susunan banten-banten itu (1 – 5) harus harmonis, dalam artian keseimbangan antara banten ‘hulu’ dan banten ‘teben’. Yang dimaksud hulu adalah banten pokok/ utama dalam unsur di atas: no. 1, sedangkan banten teben yang no.5. Jangan sampai yang no.5 lebih besar daripada yang no 1.
4. Pada penampahan Galungan:
- di pelinggih-pelinggih cukup menghaturkan banten ‘penyacak’ yaitu rayunan sederhana, berisi canang genten.
- di pura/ sanggah-pamerajan, mecaru alit, boleh segehan agung, boleh ayam brunbun
- di masing-masing keluarga mabea-kala dan maprayascita, setelah nanceb penjor.
Makna:
Kita siap menghadapi/ menyambut kemenangan dharma dengan menyucikan diri dan membuang segala bentuk asuri sampad yang ada di diri kita masing-masing.
5. Gunakan minimal caru ekasata (ayam brunbun dengan urip 33)
6. Sudah dijawab
7. Perlu ditambah dengan banten hulu: pejati, tebasan pasupati, pengulapan, pengambean, prayascita, durmenggala, guru piduka.
8. Boleh karena uncal balung ‘dikalahkan’ oleh purnama.
Related posts:

Recent Comments