Om Swastyastu. Berdasar pengalaman saya memimpin upacara Pitra Yadnya sejak tahun 2000, barangkali sudah ribuan roh yang disucikan, ternyata yang namanya sorga dan neraka itu ada di alam setelah kehidupan kita di dunia. Roh yang masuk neraka, tidak selamanya di sana, tetapi jika sudah dipandang cukup waktunya oleh Hyang Widhi, menjelma kembali menjadi manusia yang sangat papa, atau mahluk lain yang lebih rendah.
Om Swastyastu.Membuat tatoreh berasal dari pengembangan filsafat Dvaita yang bersumber dari Prasthana Traya, yaitu Upanisad, Bhagawadgita, dan Brahma Sutra.
Di India filsafat ini disebarkan oleh seorang Mahaguru, abhiseka: Sri Madhvacarya yang berpaham Vaisnavisme Madhva. Paham ini dibawa ke Indonesia pada tahun 530 Masehi dan dianut oleh para pemeluk paham Wisnu. Pemujaan Wisnu terdiri dari:
- Angkana yaitu menandai badan dengan simbol-simbol Tuhan (misalnya sampai sekarang kita mewarisinya dengan memakai bija, sirowista, bhasma, bunga, dll.)
Om Swastyastu. Minggu lalu saya muput ngaben seorang warga Hindu di Singaraja. Sang Lina ketika meninggal baru berusia 43 tahun, usia yang masih sangat produktif. Keluarganya menjelaskan sang lina meninggal karena menurut dokter ‘kekurangan gizi’ karena sang lina melakukan brata sebagai vegetarian terlalu ketat. Ibunya sambil menangis cerita bahwa anaknya sangat patuh pada brata vegetarian, tidak pernah makan daging sejak SMP.
1. Dalam Lontar Tutur Panus Karma, disebutkan bahwa Kandapat akan keluar dari tubuh manusia ketika tidur pulas. Maka mereka agar distanakan di pelangkiran kamar tidur.
Pelangkiran itu diisi daksina dan setiap bulan Purnama diperbaharui. Jika tidak, maka Kandapat akan kelayapan ke mana-mana, dan ini yang mempengaruhi roh/ atma masuk ke dalam alam pikiran, menimbulkan mimpi.
Om Swastyastu. Menurut Lontar Tutur Kuturan, ada istilah “hulu” dan “teben”. Istilah ini muncul karena keterbatasan pikiran kita, kemudian memandang bahwa Tuhan itu seperti organ manusia, ada kepala, badan/ tangan, kaki.Lihatlah misalnya lambang acintya, toh berbentuk manusia. Dari sini berkembang bahwa hulu itu kepala, teben itu kaki. Selanjutnya ini juga menjadi patokan utama, madya dan nista mandala dari sebuah bangunan suci/ pura/ sanggah pamerajan.
Recent Comments