QUESTION:
Tiang punya pertanyaan mengenai karya mamungkah yang dilaksanakan di banjar-banjar di Bali. Yang mana karya tersebut diikuti dudonan karya yang setiap banjarnya berbeda-beda. Pertanyaan titiang adalah tentang definisi atau makna dari upacara:
- Neteg Beras
- Mendak Siwi
- Melasti
- Nyegara Gunung
- Mesasap Cokor
- Ngatep Karya
QUESTION:
Saya ingin menanyakan pada Ida Pandita bagaimana seharusnya etika berbusana ke pura yang baik dari sudut pandang agama, etika, filosofis, dan opini Ida Pandita sendiri? Saya berpendapat bahwa saat ini kebanyakan pemuda atau bahkan orang tua saat sembayang ke pura terkesan seperti menampakkan modernitas dalam berbusana, asal pake kebaya meski brokat dan terlihat transparan, ketat tidak apa2 dan sah2 saja, terlebih untuk kaum perempuan.
QUESTION:
Pertanyaan seputar pengertian Dewata-Dewa serta permohonan agar para Sulinggih bisa menuliskan pengalaman spiritualnya untuk pencerahan umat.
ANSWER:
Perkataan Dewata-Dewa, berasal dari bahasa Sanskerta “div” yang artinya sinar suci. Dalam konteks ini diartikan sebagai percikan sinar suci Hyang Widhi, atau prabawa Hyang Widhi dalam “sakti”-Nya yang dapat dirasakan oleh manusia dalam wujud getaran-getaran spiritual.
QUESTION:
Apakah tulisan dalam lontar-lontar itu yang dinamakan mantra, dan benarkah tidak sembarang orang boleh membaca lontar dan mengucapkan mantram? Bagaimana halnya jika seseorang tuli bisu apakah dia tidak dapat melakukan Puja Trisandya? Kaum muda saat ini sedikit sekali yang dapat mengerti bahasa Sanskerta, apakah itu berarti kita belum menekuni agama Hindu dengan baik?
QUESTION:
Di kampung tiang ada kebiasaan yang menurut tiang sangat bertentangan dengan nilai budaya dan akal sehat, yaitu menaruh mayat di rumah selama berbulan bulan karena alasan belum menemukan dewasa yang tepat. Ada juga yang menaruh mayat keluarganya sampai lebih dari 1 tahun dengan alasan meningkatkan gengsi.
Recent Comments