Pura Jagatnatha yang ada di setiap Kabupaten adalah jenis Pura “penyungsungan jagat” yang dibangun dengan pertimbangan mula-mula agar “kaum pendatang” yang tidak “mekrama desa” di kota itu mempunyai tempat bersembahyang.
Hal ini disebabkan karena Pura-pura Kahyangan Tiga yang sudah ada sebelumnya (dari zaman Mpu Kuturan) adalah bagi penduduk desa pakraman yang bersangkutan. Read more » Pura Jagatnatha
Penggunaan “pedagingan” pada pelinggih-pelinggih atau bentuk-bentuk niyasa di suatu Pura atau Sanggah Pamerajan diatur dalam Lontar Bhuwana Tattwa Maha Rsi Markandheya, Gong Besi, dan Sanghyang Aji Swamandala. Read more » Pedagingan
Padmasana merupakan singgasana bagi Sanghyang Widhi. Dia adalah yang tertinggi dan yang paling tinggi, yang terbesar dan yang paling besar.
Alam Semesta Raya, dengan bintang-bintang, matahari, bulan, bumi, dan seluruh makhluk yang ada di dalamnya, diciptakan dan dikuasai oleh-Nya. Read more » Padmasana dan Pitri
1. Sanggah Pamerajan dibedakan menjadi 3:
- Sanggah Pamerajan Alit (milik satu keluarga kecil)
- Sanggah Pamerajan Dadia (milik satu soroh terdiri dari beberapa ‘purus’/ garis keturunan)
- Sanggah Pamerajan Panti (milik satu soroh terdiri dari beberapa Dadia dari lokasi Desa yang sama) Read more » Sanggah Pamerajan – Seri II
Mengingat rekan-rekan sedharma di Bali dan di luar Bali banyak yang membangun tempat sembahyang atau Pura dengan pelinggih utama berupa Padmasana, perlu kiranya kita mempelajari seluk beluk Padmasana agar tujuan membangun simbol atau “Niyasa” sebagai objek konsentrasi memuja Hyang Widhi dapat tercapai dengan baik. Read more » Padmasana
Pelinggih-pelinggih umum yang terdapat di Sanggah Pamerajan adalah stana dalam niyasa Sanghyang Widhi dan roh leluhur yang dipuja:
1. Padmasana/ Padmasari: Sanghyang Tri Purusha, Sanghyang Widhi dalam manifestasi sebagai Siwa – Sada Siwa – Parama Siwa.
2. Kemulan Rong Tiga: Sanghyang Trimurti, Sanghyang Widhi dalam manifestasi sebagai Brahma – Wisnu – Siwa atau disingkat Bhatara Hyang Guru. Read more » Sanggah Pamerajan – Seri III
Meru adalah salah satu bentuk niyasa berupa bangunan suci stana Ida Bhatara (manifestasi Ida Sanghyang Widhi Wasa) yang dalam tradisi beragama Hindu di Bali disebut pelinggih. Bangunan meru terdiri dari tiga bagian, yaitu:
- Bagian pertama adalah pondamen atau bebaturan dibuat dari bahan batu, semen, paras, batu-bata, dengan ornamen yang disebut karang gajah, karang paksi, dan karang bun. Read more » Meru
1. Sejarah Padmasana
Pemujaan Sanghyang Widhi Wasa sebagai Bhatara Siwa berkembang di Bali sejak abad ke-9. Simbol pemujaan yang digunakan adalah Lingga-Yoni. Keadaan ini berlanjut sampai abad ke-13 pada zaman Dinasti Warmadewa. Read more » Padmasana – Rewriting Version
Recent Comments