QUESTION:
- Saya berdomisili di Jawa Tengah, blesteran Bali-Jawa, hidup di lingkungan Islam. Saya Hindu sejak lahir namun baru benar-benar belajar Hindu (mencari jati diri saya saat kuliah).
- Saya semenjak kecil sering mendengar orang-orang bertanya-tanya tentang Hindu, bahkan banyak yang berpandangan sinis.
- Saya sendiri tak tahu banyak tentang Hindu, tapi tak tahu harus tanya ke mana. Ayah saya Hindu yang sangat moderat, bagi kami sembahyang 3 kali sehari, sembahyang di pura saat purnama, tilem, hari raya, menjaga hubungan baik dengan semuanya, itu sudah cukup.
- Saya masih tak paham kenapa Hindu harus memakai banten yang begitu banyaknya dan mahal. Di Jawa tak sampai segitunya.
- Dewa itu sebenarnya apa? Sinar suci Tuhan?
- Tapi kenapa bisa punya istri dan putra?
- Yang pertamakali mempersonifikasikan dewa-dewa itu siapa?
- Sampai sekarang kita mempresepsikan dewa-dewa itu seperti patung/ gambar yang kita lihat?
- Kenapa hari raya Hindu tidak ada yang seragam, harusnya ada sebuah persamaan besar antara Hindu di seluruh dunia. Seperti Natal untuk merayakan kelahiran Yesus.
- Maaf, banyak pertanyaan yang kesannya naif banget. Pengetahuan saya memang kecil banget tentang Hindu, tapi saya tetap mau belajar.
- Salut masih ada yang peduli pada umat. Saya sangat merindukan dharmawacana yang menyejukkan hati.
- Saya sungguh iri ketika mendengarkan ceramah-ceramah agama lain.
- Ada yang bilang kalau cari suami jangan pandang agamanya, beda juga boleh.
ANSWER:
1. Untuk belajar Hindu ada berbagai cara:
- Kuliah di IHDN
- Auto-didact (belajar sendiri) dengan membaca buku-buku Agama Hindu. Saya anjurkan bagi pemula seperti anda, baik sekali bila membaca: Buku Materi Pokok Hindu (Sejarah Sosiologi, Filosofi, dll) dari “Program Penyetaraan D-II Guru Pendidikan Agama Hindu Sekolah Dasar, Departemen Agama” – Dirjen Bimbingan Masyarakat Hindu dan Buddha, dan Universitas Terbuka, 1995. Buku itu berbentuk modul. Coba hubungi: 1. Departemen Agama, atau 2. Universitas Terbuka.
- Bila ingin yang lebih tinggi terutama dalam bidang Filsafat Hindu, baca buku: Pengantar Agama Hindu untuk Perguruan Tinggi, oleh Cudamani, Penerbit: Yayasan Dharma Sarathi, Jakarta, 1990.
- Sebagai golongan intelektual seperti anda, cara belajarnya ya dengan methoda tertentu, pilih mana yang lebih efektif dan efisien.
2. Orang yang berkata sinis karena tidak tahu/ tidak mengerti apa yang dibicarakannya
3. Lebih baik tidak bertanya kesana-kemari, apalagi kalau bertanya tidak pada orang yang patut ditanyai. Nanti malah tersesat. Lebih baik belajar sendiri, dan rajin membaca, jalan ke toko buku, pilih buku-buku Hindu yang sesuai dengan tradisi beragama Hindu di Bali.
4. Kenapa memakai banten karena:
- Dengan sarana banten, kita wujudkan bhakti pada Sanghyang Widhi.
- Banten adalah media kita untuk mendapatkan sinar suci Sanghyang Widhi Misalnya bila kita memohon umur panjang dan keselamatan, kita mohon kepada Bhatari Durga, dengan banten “bebangkit”. Bila memohon keberhasilan pekerjaan atau sukses dalam karir, kita mohon kepada Sanghyang Parameshwara dengan banten “Pule gembal” demikian seterusnya. Saya sedang menyusun tulisan panjang tentang hal ini. nanti kalau sudah selesai dapat diakses di Stiti Dharma Online.
- Banten = Bali (bahasa Jawa kuno = Kawi). Maka orang-orang Hindu yang bersembahyang memakai banten dinamakan orang Bali. Agamanya disebut Agama Hindu-Bali. Pulau tempat mereka tinggal dinamakan Pulau Bali. Budayanya disebut budaya Bali. Kalau tidak memakai banten, tidak bisa disebut orang Bali.
5. Dewa berasal dari bahasa Sanskrit: Div = sinar/ fibrasi kesucian Sanghyang Widhi
6. Istri Dewa bukan dalam pengertian = wife atau husband, tetapi istri = shakti, artinya salah satu “kekuatan” (ardanareswari) Sanghyang Widhi dalam mewujudkan cinta kasih-Nya kepada manusia.
Misalnya Dewa Brahma, shaktinya adalah Dewi Saraswati. Maksudnya ketika Tuhan (sebagai pencipta) meneruskan kecintaannya dengan memberi ilmu pengetahuan kepada manusia, maka Dia berwujud sebagai Dewi Saraswati.
Mengapa Dewi ilmu pengetahuan harus perempuan (wanita), karena para Maha Rsi dalam filsafat (dharsana) memandang wanita adalah “pemelihara” yang sempurna.
7. Para Maha Rsi ingin mengajarkan sesuatu yang “acintya” (tak terbayangkan, tak berbentuk, tak terpikirkan). Oleh karena itu Tuhan di-personifikasi-kan seperti manusia, sesuai dengan nalar/ pikiran kita (manusia) yang terbatas.
Pertanyaan: bagaimana memikirkan sesuatu yang “tak terbatas” hanya dengan modal otak kita yang “terbatas”? Maka menjawab pertanyaan itulah dipandang perlu personifikasi.
Contoh lain: sehari-hari, bahkan ilmu pengetahuan manusia (yang terbatas) mengatakan matahari terbit di timur. Benarkah? Jawabnya: tidak. Coba anda berada di outher space, manakah timur, barat, utara, selatan di sana?
Nah daripada memikirkan tak habis-habisnya sesuatu yang tak terpikir, maka diambillah kesepakan bersama antara manusia-manusia di bumi yang sudah tentu masih “bodoh” jika dibandingkan dengan kemahakuasaan Tuhan.
8. Gambar/ patung itu hanya “niyasa” (simbol) sekali lagi, karena “kebodohan manusia” lalu membayangkan Tuhan itu berwujud seperti manusia, padahal tidak.
9. Hari raya Hindu tidak ada yang seragam, karena:
- Karena Agama Hindu mempunyai lebih dari 100 sekte di dunia ini.
- Karena Hindu bukan agama doktrin, tetapi agama hati nurani umat manusia. Jadi Hindu memberi kebebasan sepenuhnya kepada manusia untuk mewujudkan bhaktinya kepada Tuhan
10. Mempelajari Hindu, jangan dengan “kacamata” Agama lain. Misalnya, kaum muslim sebaiknya hafal dengan Qur’an, atau minimal tahu cuplikan ayat-ayat suci Qur’an. Hindu (Bali) sedikit yang tahu Weda, tetapi yang diutamakan adalah trikaya parisuda: berbuat, berbicara, dan berpikir yang baik.
11. Semasa hidup saya selalu mengabdi kepada rakyat/ umat. Semoga berkat doa anda saya dapat melakukan tugas dengan baik.
12. Jangan terlalu sering mendengarkan khotbah, nanti terpengaruh loh. Apalagi dasar pijakan kita berbeda. Anak-anak muda yang “terpesona” dengan khotbah-khotbah, ada yang membanding-bandingkan Hindu dengan agama tertentu.
Pasti saja akan menjadi bingung, karena agama adalah keyakinan, sifatnya sangat pribadi dan subjektif, sehingga agama tidak bisa dibanding-bandingkan satu sama lain, apalagi menilai yang ini lebih bagus, kita kok tidak begitu, dsb.
13. Nanti pasti akan ada problem di rumah tangga. Memang awalnya sih OK OK saja karena sedang dimabuk cinta. Tetapi setelah menikah 20 – 30 tahun, lalu timbul problem, terutama mengangkut masa depan anak-anak.
Related posts:

Recent Comments