Apakah Hyang Widhi Bersifat Universal?

QUESTION:

1. Apakah Hyang Widhi tersebut bersifat Universal? Kalau ya, mengapa di India tidak mengenal Hyang Widhi? Malahan yang universal adalah Dewa-Dewa (Brahma, Wisnu, Siva, Ganesha, dll) atau percikan suci dari Hyang Widhi sendiri.

2. Bagaimana dengan para leluhur kita? Seperti kita ketahui Umat Hindu di Indonesia terutama yang ada di Bali tak lepas dengan upacara-upacara Pitra Yadnya yang diperuntukkan untuk leluhur. Sebenarnya bagaimanakah dengan leluhur jika dibandingkan dengan para Dewa yang merupakan manifestasi dari Tuhan? Apakah leluhur tersebut merupakan manifestasi dari Tuhan juga?

3. Bagaimana juga penjelasan dalam Weda mengenai kematian? Kalau di Bali yang saya ketahui kalau orang meninggal sebelum diaben rohnya dibilang ngayah di Pura Dalem, setelah diaben terus melinggih di merajan (kemulan), bagaimana dengan Sorga dan Neraka?

    ANSWER:

    1. Hindu di India masih terpecah-pecah dalam ‘sekte’ sehingga ‘nama’ Tuhan berbeda-beda menurut keyakinan sekte masing-masing.

    Di Bali ‘nama’ Tuhan adalah berintikan sekte Siwa-Sidantha, sehingga Tuhan disebut ‘Siwa’. Namun kemudian sekte Siwa-Sidantha di Bali melebur dengan sekte-sekte lainnya yang juga ada di Bali, antara lain: Brahma, Waisnawa, Pasupata, Linggayat, dll. Maka ‘nama’ Tuhan-pun di Bali beragam, namun masih ada pemersatu yaitu sebagai Bhatara Guru, atau Sanghyang Tiga Sakti (Brahma – Wisnu – Siwa) atau Tripurusha (Siwa-Sadasiwa-Paramasiwa).

    ‘Nama’ Ida Sanghyang Widhi Wasa tidak ada dalam Lontar atau Purana di Bali. Itu baru saja tercetus secara terbuka setelah tahun 1965, walaupun unsur-unsur istilah sudah lama ada, yakni: Widhi, yang artinya: ‘Wid’ = yang ada dan segalanya.

    2. Penyembahan roh leluhur diwajibkan dalam Hindu, tertuang dalam Panca Srada, yakni Srada yang ke-dua: Atma Tattwa. Roh = Atman itu sendiri adalah sama dengan Brahman = Tuhan. Bedanya adalah Roh sudah terkena pengaruh yaitu Karmawasana, sedangkan Brahman tidak.

    3. Roh tidak selamanya berada di Sorga maupun di Neraka. Roh yang belum suci belum bisa bersatu dengan Tuhan/ Brahman, karena itu roh menjelma kembali menjadi manusia. Roh yang ‘menunggu giliran’ untuk re-inkarnasi distanakan di Sanggah Pamerajan (bila sudah Nyekah dan Mepaingkup). Roh yang sudah diaben tetapi belum Nyekah masih dalam ‘kekuasaan’ Bhatari Durga di Pura Dalem.

      Related posts:

      1. Apakah Kotoran Sapi Bersifat ‘Leteh’?
      2. Palinggih Hyang Kompiang
      3. Dewa Hyang
      4. Sai Baba
      5. Ida Sanghyang Widhi Menciptakan Bumi Untuk Kesejahteraan Manusia

      Leave a Reply

       

       

       

      You can use these HTML tags

      <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>