Ask Bhagawan Dwija

thumbs bhagawan Ask Bhagawan DwijaAny private or public question about Hinduism aspects? Whatever lightweight or heavyweight level of the question(s), DO NOT HESITATE, just meet him online.

Facebook: bali.stitidharma.org/facebook
Yahoo Mail: bhagawan.dwija@yahoo.com (changed! look at notice at Facebook)

Any comment you make here, will route directly to his email.  So if there is question in there, he will reply you.

29 comments to Ask Bhagawan Dwija

  • 1
    kadek winarta says:

    om suatiastu,

    mohon petunjuk ratu peranda.
    tiang baru membuat sanggah turus hidup dengan empat carang pohon dapdap dan menggunakan plangkiran sebagai bagian atasnya tanpa menggunakan kwangen dan pis bolong 11 kepeng sebagaimana yang ratu tuliskan. upacaranya waktu itu hanya dengan prastista dan dengan pejati. apakah boleh saya lanjutkan pemakaiannya atau ada yang harus tiang perbaikki?

    matur suksem
    om shanti, shanti, shanti, om

    • 1.1

      Turus lumbung umurnya hanya 6 bulan. Jika belum bisa membuat bangunan pelinggih permanen, turus lumbung itu diperbaharui setiap 6 bulan dengan menambahkan kwangen dan jinah 11kepeng.

  • 2
    Adhi says:

    Om Swastiastu, Bapak Bhagawan Dwija.
    Saya sebagai seorang siswa yang sudah lama tinggal di perkotaan merasa malu akan kekurangan pengetahuan saya akan kebudayaan bali seperti sanggah cucuk dan sengkui. Saya dan keluarga bisa, dan cukup mampu membuat kedua alat upakara tersebut.
    Namun kami memiliki pengetahuan yang minim sekali akan makna dari kedua alat upakara tersebut.
    Bisakah Bapak Bhagawan Dwija menjelaskan dan menerangkan, apa makna dari sengkui dan sanggah cucuk??
    Terima Kasih.
    Om Shanti Shanti Shanti Om.

    • 2.1

      Sengkui adalah tatakan caru yang bermakna sebagai niyasa penugrahan Bhatara Brahma kepada kita melakukan prasista gumi. Sengkui di ulat dengan memperhatikan uripnya yaitu di timur = 5, di selatan = 9 dst. Sanggah cerukcuk pada pecaruan bermakna sebagai pelinggih buta-hita, yakni ketika sang bhuta sudah menjadi dewa setelah dipuja oleh Sulinggih. Karena itu bantennya di sanggah cerukcuk : pejati.

  • 3
    W.Nila says:

    Dalam lontar Sivagama lembar 328, ada menyebutkan tentang kewajiban membuat sad kahyangan besar, menengah dan kecil,40 keluarga harus membangun panti, 20 keluarga harus membangun ibu, 10 keluarga harus membangun pratiwi. Dan tiap tiap keluarga harus membangun Kamulan. (drs I Nyoman Singgin Wikarman, Sanggah Kemulan, fungsi dan pengertiannya, Paramita, 1998).
    Selanjutnya Dalam Lontar Purwa Bhumi Kemulan, disebutkan mengenai ngelinggihang Dewa Hyang ring kemulan ( Iki kramaning angguhaken pitra ring kemulan dst…Drs Kt Wiana Berbakti pada leluhur dst… upaca nuntun Dewa Hyang Paramita, 1998)
    Karena pada tiap ibu/panti/pratiwi, ada juga kamulan, maka dikemulan yang berada dimana dewa Hyang distanakan. Apakah di kemulan yang berada di ibu dst, ataukah di kemulan keluarga kecil.Terimakasih

    • 3.1

      Raja Dewata (roh leluhur yang sudah suci) berstana di setiap batur kemulan, baik yang ada di Penataran, Panti, Ibu, Dadia dan Rumah tangga. Jadi beliau disumbah oleh semua warga seketurunan (soroh) tergantung dari lingkup Pura/Sandggah Pamerajan itu. Misalnya kalau di Penataran, oleh semua penyungsung di Penataran (kumpulan dari beberapa Panti); kalau di Dadia oleh semua warga dadia, dst. Jika di rumah tangga, oleh keluarga kecil itu. Biasanya, kalau sudah mepaingkup di Sanggah Dadia, lalu setiap kepala keluarga nuwur Raja Dewata lanang/istri menggunakan kampuh lalu dibawa/distanakan di kemulannya sendiri di rumah.

      • w.nila says:

        Ampura, Ida pandita.

        Saya jadi bingung, karena menurut yang saya baca di buku tersebut, yang juga menyertakan kutipan lontar lontar ybs; menyebutkan bahwa ngelinggihang dewa Hyang tempatnya di sanggah kemulan, kalau perempuan di ruang yang kiri kalau laki laki di ruang yang kanan. Sedangkan “Batur kemulan” adalah tempatnya atma yang belum suci yang hanya mendapat tirtha pengentas pendem. Selanjutnya mohon penjelasan, apakah sama batur kamulan dengan sanggah kemulan, atau merupakan bagian dari sanggah kemulan. Bagian mananya yang disebut batur Kamulan. Ampura, tiang tak pernah baca lontarnya, hanya bukunya.Mohon pencerahaannya, suksma.

  • 4
    W. Nila, Singaraja says:

    Setelah uapacara ngelinggihan Dewa hyang, (mesakapan nilapati dan naur danda kalepasan) dewa hyang itu dimana alamat resminya: Di Dalem Puri, pura dalem kahyangan tiga, di paibon(sanggah dadia) ataukah di sanggah kemulan masing masing rumah tangga.

    • 4.1

      Di Sanggah Pamerajan masing-masing seperti penjelasan diatas. Ada yang mengatakan di Dalem Puri. Itu keliru. Kalau belum pernah nuntun Raja Dewata, ya benar di Dalem Puri. Tetapi kalau sudah pernah nuntun, maka pada waktu meajar-ajar ke Dalem Puri tidak perlu lagi nuntun. Cukup nangkilang dan mapiuning saja.

  • 5
    MADE RASNITI says:

    saya ingin bertanya sedikit kepada bagawan, kami tinggal di Btn,berhubung lahan yang sangat terbatas, bolehkah saya mengganti tembok penyengker rumah ( depan pintu masuk ke dalam ruangan ) dengan pagar besi yang sewaktu waktu bisa dibuka kalau ada acara ( pagar lipat )apakah ada pengaruhnya nanti dengan situasi/kehidupan keluarga kelak. saya tunggu jawabannya, suksma

    • 5.1

      Rumah BTN dalam istilah asta kosala-kosali, disebut “Umah Jejawaan” artinya rumah yang dibangun tidak menggunakan ketentuan asta kosala-kosali, gegulak, sukat, dll sehingga kesakralan rumah tidak seperti rumah “Bali” Maka perubahan pagar menggunakan besi lipat dll. itu boleh saja, tidak ada pengaruhnya, namun setelah selesai agar dibuatkan banten prayascita/pebersihan.

  • 6
    Postmaster says:

    Om Swastyastu,

    Buat temen-temen yang pertanyaannya belum terjawab di sini, bisa langsung kontak Bhagawan Dwija melalui email atau facebook beliau. Informasinya ada di atas.

    Mohon permakluman berhubung kesibukan beliau.

    Om Santih Santih Santih Om.

  • 7
    Widia says:

    Websitenya keren bangetz…

  • 8
    i ketut sugiharta says:

    PENTINGKAH ACARA NGERORAS SETELAH UPCARA NGABEN , APA PENGERTIAN NGERORAS

    • 8.1

      Ngeroras asal kata dari dua suku : Ro = dua, dan Las = pisah. Jadi ngeroras artinya perpisahan yang kedua. Disebut demikian karena prosesi ngeroras adalah melepaskan ikatan roh yang kedua yang bernama Panca Tan Matra yakni pengaruh panca indria kepada roh ketika manusia hidup. Sedangkan ngaben adalah perpisahan roh pertama dengan Panca Maha Bhuta, yaitu pengembalian unsur-unsur tubuh manusia ke alam semesta. Oleh karena itu ngeroras/nyekah/memukur/meligia harus dilakukan agar roh dapat mantuk ke sunia dengan baik. Selanjutnya baca artikel tt hal ini di website.

  • 9
    Agus Sastrawan says:

    Om Swastyastu,
    mohon diberitahu banten serta kelengkapan apa saja yang harus disiapkan/dibuat untuk upacara tiga bulanan dan Otonan.

    Suksma
    Om Santih Santih Santih Om

  • 10
    Agus Sastrawan says:

    Om Swastyastu,
    mohon informasinya tentang banten dan perlengkapan apa saja yang di pakai pada saat upacara tiga bulanan dan Otonan.

    Suksma.
    Om Santih Santih Santih Om

  • 11
    ketut artha says:

    Om swastyastu

    Jika kami membangun sanggah untuk di btn dan tempatnya kecil pelinggih apa saja yang harus ada, suksme

    Om santih santih santih

  • 12
    W. Nila, Singaraja says:

    Om Suastiastu, Ida Pandita,
    Seperti diketahui, sebuah sanggah kemulan mempunyai 3 atau 2 ruang. Bila kita maturan, apakah ketiga ruangnya di aturi sajen, ataukan cukup satu saja. Suksma.

  • 13
    K. Undersana says:

    Bapak Bhagawan Dwija, yth
    Dalam kepercayaan Hindu, apakah mungkin roh leluhur menitis (reinkarnasi) di keluarga lain, atau bahkan di luar negeri seperti halnya kepercayaan Budda dan kepercayaan para hipnoterapist yg berkembang pesat belakangan ini? Apa dasar sastranya? [Catatan: dalam buku2 best seller, banyak diceritakan bahwa leluhur bbrp orang di Jakarta (yg diterapi) banyak yg dulu jadi tentara di Mesir, di China dsbnya]. Terima kasih atas tuntunan Bhagawan.

    • 13.1

      Kita berbicara dalam lingkup keyakinan Agama Hindu (Bali) yang mempunyai Panca-srada (lima keyakinan : Dewa Tattwa, Atma Tattwa, Purna/Punarbhawa, Karmaphala, dan Mokdah). Jawabannya : roh leluhur hanya akan punarbhawa digaris keturunan purusha.

  • 14
    K. Undersana says:

    Pada Q&A yang terdahulu, Bapak menyatakan bahwa konsep Mpu Kuturan tentang susunan merajan dan Tri Kahyangan Desa, disempurnakan dgn penambahan Padmasana/padmasari oleh Dang Hyang Nirarta. Apakah dengan demikian masih dimungkinkan adanya “up dating” lagi oleh Sulinggih yang sekarang ada (tentunya melalui Wahyu, dsbnya)mengingat teknologi dan perkembangan kehidupan sosial ekonomi masyarakat khusunya iklim,sudah berubah cukup signifikan?
    Maksud saya, misalnya merajan bisa dibuat beratap atau bisa buka tutup, shg tidak terganggu oleh cuaca/iklim. Mohon maaf kalau pertanyaan saja agak “visioner”. Terima kasih atas jawaban Bhagawan.

    • 14.1
    • 14.2

      Dalam perjalanan sejarah, wahyu-wahyu yang diterima dan disosialisasikan ke masyarakat sifatnya melengkapi, namun tidak bertentangan dengan prinsip terdahulu. Di zaman sekarang, mungkin saja ada wahyu yang diterima oleh para Sulinggih tertentu, namun sosialisainya memerlukan waktu bertahun-tahun. Contoh perkembangan dari Mpu Kuturan ke Danghyang Nirartha memerlukan waktu 3 abad, bahkan sampai sekarang masih ada Pura/Sanggah Pamerajan yang tidak mempunyai Padmasana. Itu berarti penyungsungnya masih “fanatik” pada ajaran Mpu Kuturan, padahal ajaran Danghyang Nirartha kini sudah berusia 7 abad.
      Kalau Pura/Sanggah Pamerajan memakai atap, itu sudah tidak mengikuti konsep dasar, bahwa persembahyangan umat Hindu (Bali) di tempat terbuka dimana Luhuring Akasa langsung disembah, tanpa ada penghalang. Disamping itu konsep panunggalan Bhuwana Alit (tubuh manusia) dengan Bhuwana Agung (alam semesta) tidak juga boleh dihalangi oleh dinding/atap pemisah.

  • 15
    w.nila says:

    Om Suastiastu Ida Pandita. Seperti diketahui Pura Dasar Bhuwana Gelgel,adalah merupakan komplek pura pura, yaitu terdiri dari banyak Pelinggih / Meru antara lain pura untuk berbagai soroh. Pada suatu waktu kami rombongan melakukan sembahyang dalam rangka ngajar-ajar di pura tersebut, yaitu di meru tumpang tiga (penyungsungan warga Pasek) Setelah selesai sembahyang, ada pengumuman dari pengeras suara yang ada di pura tsb, agar kelak, acara ngajar-ajar, juga dilakukan di pelinggih/pura Dasar Bhuwana. Pertanyaannya: apa ada lagi pelinggih/pura dasar Bhuwana yang bersifat sendiri, bukan berupa komplek pura? suksma

  • 16
    W. Nila, Singaraja says:

    OM Suastiastu Ida Pandita.
    Ida Pandita pernah menulis dalam forum ini mengenai soroh/klan.Sebenarnya saya tidak yakin akan klan/soroh saya.Apakah saya soroh Ida Bagusssssssss atau Gusti Bagus dll atau pasek/pande. Ketika ada orang bertanaya pada saya, Saya jawab dengan soroh yang paling cepat saya ingat: Pasek. Dia bertanaya lagi, Pasek Apa? saya jawab asal-2an: Pasek gelgel. Ditanya lagi oleh dia: Dimana kawitannya.Saya bingung jawabannya. Memangnya Pura Kawitan Pasek itu ada berapa sih. Kalau banyak, Kok aneh.Menurut akal sederhana, satu soroh itu pasti ada satu pasang yang melahirkan, Ibu dan Bapak.Menurut literatur, Ida Mpu Gnijaya menurunkan Pasek yang pertama dan seterusnya. Seharusnya Parahyangan Mpu Gnijaya adalah Pura Kawitan Pasek, dari seluruh keturunannya. Tapi fakta lapangan, banyak pura yang menklaim sebagai pusat kawitan Pasek. Mohon pencerahan Ida Pandita. Suksma.

Leave a Reply

 

 

 

You can use these HTML tags

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>