Ask Bhagawan Dwija

Bhagawan DwijaAny private or public question about Hinduism aspects? Whatever lightweight or heavyweight level of the question(s), DO NOT HESITATE, just meet him online.
Yahoo Mail: bhagawandwija@yahoo.com
Facebook: facebook.com/people/bhagawan-dwija/1044273751

Features

Stiti Dharma MobileTry Stiti Dharma Mobile with your mobile phone (http://stitidharma.org). Picture preview beside. [1]
Translate this site using Google Translate. It doesn’t give a perfect result but give it a try. Click here. [2]
View our Gallery at the sidebar Pages menu (also appear at the top of our website). Click here. [3]
On going… A lot of QA (Question & Answer) content at QA category. Click here. [4]

Calendar

February 2010
M T W T F S S
« Jan   Mar »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728

Who's Online

9 visitors online now
9 guests, 0 members

Categories

Ngaben Bagi Yang Beralih Agama

QUESTION:

  1. Ada warga yang sudah sejak lama beralih ke-agama lain (bukan Hindu), ketika beralih agama dahulu ia belum “mepamit ke Sanggah Pamerajan”; bila ia meninggal dunia apakah keluarganya terkena cuntaka/ sebel; kemudian jika keluarganya ingin membuat upacara ngaben baginya apakah boleh?
  2. Upacara “makingsan di gni” dilaksanakan sebagai berikut: a) sawa dibakar, b) nganyut ke segara, c) ngedetin dibawa ke rumah, d) ngerorasin, e) mecaru/ ngererebuin, e) ngantukang ke Pura Dalem. Pertanyaannya: a) masihkah keluarganya terkena cuntaka/ sebel; b) bolehkah ngodalin di sanggah pamerajan karena ada penjelasan seorang Sulinggih, sebelum lewat 42 hari tidak boleh ngodalin.

Banten Sekartaman dan Balen Bebangkit

QUESTION:

Saya melihat di beberapa tempat, tetandingan banten Sekartaman dan Balen bebangkit berbeda-beda, yaitu ada yang menggunakan carang jepun, ada yang memakai tebu, dan ada yang memakai pugpug. Manakah yang benar dan apakah maknanya?

ANSWER:

Tetandingan Sekartaman dan Balen bebangkit seharusnya memakai tebu kuning, karena tebu kuning adalah simbol Smara-Ratih. Sekartaman berkaitan dengan banten Dewa-Dewi, Pulagembal, dan Bebangkit. Dapat juga sebagai runtutan Catur, di samping banten Garuda dan Suci Agung. Oleh karena itu Bebangkit juga menggunakan tebu kuning.

Gamelan Untuk Upacara Panca Yadnya

QUESTION:

  1. Pada acara-acara seperti: mendak Ida Bethara, melelasti, maupun upacara-upacara Panca Yadnya yang lain biasanya menggunakan gamelan. Mengapa demikian, apakah boleh tidak menggunakan gambelan?
  2. Setiap mengantarkan mayat ke kuburan, sering para pengemudi dan pejalan kaki yang melewati iring-iringan melemparkan uang ke atas peti jenasah. Apa arti dan tujuannya demikian, dan apakah hal ini merupakan pelecehan bagi umat kita?

Menginjakkan Kaki ke Tanah

Om Swastyastu. Soal tidak menginjakkan kaki di tanah dalam tradisi beragama Hindu di Bali ada dua versi. Dalam pengertian ini, tanah sebagai pertiwi adalah bagian dari Panca Mahabhuta (pertiwi, apah, bayu, teja, akasa)

  1. Tidak menginjakkan kaki di tanah, untuk menjaga kesucian ‘pertiwi’ jika orang yang bersangkutan sedang cuntaka/ sebel karena:
    • Bayi belum diupacarai 3 bulanan,
    • Pengantin yang belum mabeakala,
    • Tidak boleh meludah ke tanah bagi orang yang baru selesai ‘mepandes’ tetapi belum mabeakala. (Acuan: Lontar Catur Cuntaka)